Menteri Keuangan Sri Mulyani, Jelaskan Kenapa Ekonomi Indonesia Lesu di FEB UI

Sejumlah mahasiswa menjawab pertanyaan beragam. Jawaban itu di antaranya yaitu: rendahnya produksi, daya beli, dan inflasi. Secara tegas, Sri Mulyani mengatakan, lesunya perekonomian terkait erat dengan Gross Domestic Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto.

“Kalau ekonomi lesu GDP growth-nya enggak tinggi. Ngantuk. Pokoknya kalian ke luar dari sini kalau enggak mengerti seputar GDP jangan bilang pernah diajar Sri Mulyani ya,” katanya tertawa di Auditorium Kampus FEB UI, Senin (5/2).

Sri Mulyani menjelaskan jika perekonomian lesu, pertumbuhan berlangsung secara statis dan lambat. Hal itu tentu akan berpengaruh pada kesempatan kerja atau peluang kerja dan angka pengangguran.

“Tunbuh sih tapi tumbuhnya statis. Lesu ogah-ogahan. Tumbuhnya 1-3 persen. Kalau di dalam ekonomi kita, berarti masih tumbuh. Tiap tahun tumbuh makanya banyak orang cari kerja kan? Kalau ekonomi tak tumbuh, Anda yang habis lulus enggak akan ada tempat lagi untuk kalian bekerja,” kata Sri Mulyani.

Menurut Sri Mulyani, perekonomian lesu bukan hanya menyebabkan produksi melemah tetapi juga menyebabkan daya beli menurun. Rumah tangga mengurangi biaya belanja.

“Masyarakat enggak mau belanja. Kurangi belanja. Misalnya harga minyak dalam negeri naik, yang semula menghabiskan bensin 20 liter seminggu tapi kini cuma 10 liter. Itu mengurangi belanja. Begitu juga jika saya menaikkan cukai rokok,” jelasnya.

Pengurangan konsumsi membuat kondisi perekonomi melemah. “Nasihat orang tua untuk hidup hemat itu benar, tapi kalau semua hidup hemat ekonomi enggak berkembang,” papar Sri Mulyani.

Dia menambahkan jika ekonomi lesu, pemerintah akan melakukan intervensi. Salah satunya dengan cara menurunkan pajak agar ekonomi terstimulasi. Atau pemerintah melakukan belanja infrastruktur agar ekonomi bergeliat.

“Seperti membangun jalan raya, kereta api, listrik, bikin bandara, sekolah, rumah sakit, irigasi. Semuanya spend supaya masyarakat bisa terstimulasi. Atau saya kasih subsidi aja,” kata dia.

Namun, lanjutnya, pemerintah juga tak boleh terlalu banyak melakukan belanja. “Sebab nanti akan menimbulkan efek crowded out artinya akam berkompetisi dengan sektor privat. Swasta merasa tak ada ruang untuk berpartisipasi,” jelas Sri Mulyani.

Sumber : Radar Malang

140 total views, 2 views today

News Reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *