Meningkatkan Peluang Investasi di Indonesia Melalui CEPA

Jakarta – Indonesia, sebuah negara berkembang dengan potensi pertumbuhan ekonomi di segala sektor. Guna memaksimalkan segala potensi yang dimiliki, pemerintah Indonesia menyusun strategi untuk meningkatkan investasi, baik dari investor domestik maupun asing. Strategi tersebut diperkuat dengan menjalin mitra perdagangan dengan berbagai negara guna memaksimalkan kepentingan usaha dan memulai kerja sama yang prospektif.

Indonesia tidaklah asing dalam membangun kemitraan dengan negara lain. Hal ini terbukti melalui beberapa perjanjian perdagangan yang dimiliki Indonesia dengan beragam negara. Hingga saat ini, Indonesia telah mengantongi sekitar sepuluh perjanjian perdagangan, di mana enam dari kesepakatan ini dikemas melalui Asean.

Namun demikian, sebagian besar perjanjian perdagangan difokuskan pada aspekaspek yang masih bersifat tradisional, seperti pengurangan dan penghapusan tarif. Padahal, investasi sangat memainkan peranan penting dalam menggerakkan roda perekonomian. Terdapat dua perjanjian yang dimiliki Indonesia yang secara spesifik mengatur investasi, yaitu Indonesia- Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA), dan Asean Comprehensive Investment Agreement (ACIA).

IJEPA ditandatangani tahun 2007 dan mulai berlaku pada 2012. Namun, Indonesia dan Jepang sedang meninjau kembali IJEPA tersebut beserta implementasinya yang mencakup beberapa aspek, antara lain akses pasar untuk Indonesia, rules of origin, dan movement of natural person.

Guna mewujudkan strategi pemerintah di bidang investasi, pemerintah Indonesia telah berupaya semaksimal mungkin untuk membenahi iklim investasi, di antaranya melalui deregulasi peraturan yang menghambat investasi, penyederhanaan prosedur perizinan investasi, dan peningkatan transparansi. Hasil dari kerja keras tersebut berbuah hasil.

Berdasarkan data dari World Bank Ease of Doing Business 2018, peringkat kemudahan berinvestasi di Indonesia telah melonjak tajam sebanyak 19 peringkat, yaitu dari peringkat 91 ke peringkat 72. Namun demikian, peringkat tersebut juga menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, dan sembari menyelesaikan pekerjaanpekerjaan rumahnya, pemerintah mengambil langkah strategis dengan menempatkan Indonesia dalam berbagai perundingan perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement/FTA) yang dikemas dalam Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dengan banyak negara maju.

Lebih dari sekadar perjanjian perdagangan bebas yang bersifat tradisional, CEPA membuka pintu untuk kemitraan strategis melalui investasi, kolaborasi usaha, pengembangan kapasitas dan kerja sama, serta masih banyak lagi.

Pada saat ini, Indonesia tengah melangsungkan perundingan dengan di antaranya Australia, European Free Trade Association (EFTA, terdiri atas Swiss, Islandia, Norwegia, dan Liechtenstein), dan Uni Eropa (EU, dengan 28 negara anggotanya). Banyak negara di seluruh dunia telah menyepakati perjanjian perdagangan bebas tersebut. Jelas bahwa kesepakatan tersebut membawa banyak manfaat untuk para pihak.

Sebagai contoh, dengan menjalin perjanjian perdangan bebas, ekspor Vietnam mengalami kenaikan sebesar 28% pada sepuluh bulan pertama diadakannya FTA dengan Eurasian Economic Union. Selain itu, Vietnam juga memiliki manfaat lainnya yang akan diraih melalui transfer teknologi pada produk otomotif.

Bagi Indonesia sendiri, CEPA adalah suatu lompatan yang besar. Namun demikian, terdapat banyak alasan dan pertimbangan mengapa Indonesia harus mengupayakan CEPA. CEPA adalah langkah yang tepat untuk melakukan reformasi internal negara.

Dengan mempromosikan investasi, Indonesia secara tidak langsung harus menyelesaikan segala pekerjaan rumahnya dan memperbaiki iklim investasi guna membuat investor merasa nyaman dalam melakukan usaha di Indonesia. Reformasi internal atas investasi akan memberikan efek domino yang positif.

Dalam hal investasi berasal dari negara maju, investor asing akan menanamkan aset mereka sehingga membuka lapangan kerja baru, kemudian memfasilitasi transfer teknologi (khususnya untuk barang) dan transfer pengetahuan (untuk jasa) secara langsung kepada orang-orang yang dipekerjakan. Dengan adanya CEPA, maka standar jasa dan barang yang diterapkan akan terus ditingkatkan dan diselaraskan, sehingga membuat barang dan jasa yang diproduksi di dalam negeri menjadi kompetitif di pasar internasional.

CEPA juga dapat meningkatkan investasi dengan cara yang jauh lebih luas dan dalam, namun lebih sederhana dibandingkan investasi asing yang dilakukan secara konservatif. Dalam hal investasi yang dilakukan bersifat jangka panjang, pada umumnya investor akan memilih investasi yang bersifat high-level dan lintas sektor. Untuk menghasilkan sebuah produk, investor harus memperhatikan setiap aspek yang diperlukan, seperti standar, lingkungan, kebudayaan yang berlaku, dan sebagainya.

Jauh lebih mudah bagi investor untuk mengikuti satu kesepakatan (CEPA) daripada mengikuti beberapa kesepakatan yang berbeda. CEPA mengatur sebagian besar prosedur yang harus dipenuhi dalam berinvestasi, mulai dari pendirian perusahaan, impor terhadap bahan produksi, pembuatan barang, pemasaran, kegiatan ekspor barang, dan seterusnya.

CEPA merupakan wadah untuk mencapai tujuan bersama para pihaknya. Apabila terdapat kekurangan pada salah satu pihak, maka pihak lainnya akan memberikan dukungan yang diperlukan melalui program peningkatan kapasitas dan kerja sama yang disepakati. Oleh karena itu, idealnya CEPA akan menciptakan hubungan yang baik antara investor asing dan perusahaan lokal.

Meskipun CEPA menawarkan manfaat yang berharga dan Indonesia telah berupaya untuk mempersiapkan diri, Indonesia tetap memerlukan waktu dalam melakukan liberalisasi sektor-sektor tertentu, khususnya yang bersifat sensitif. Agar dapat memperoleh keuntungan maksimal dan sekaligus mengurangi dampak negatif dari CEPA, hal pertama yang perlu dilakukan Indonesia adalah memastikan bahwa pelaku bisnis, termasuk usaha kecil dan menengah (UKM), memiliki kemampuan dan kesempatan untuk berpartisipasi dalam CEPA.

Untuk itu, studi mendalam mengenai situasi ekonomi dan sosial serta pemetaan akan kolaborasi usaha perlu dilakukan. Informasiinformasi penting terkait CEPA wajib disebarluaskan agar masyarakat Indonesia mengerti bagaimana cara memanfaatkan CEPA secara maksimal, bagaimana memulai kerja sama bisnis dengan mitra dagang, dan bagaimana memperluas akses pasar mereka ke luar negeri.

Singkat kata, penurunan dan penghilangan tarif tidaklah cukup untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui perjanjian perdagangan bebas. Investasi adalah kunci dalam memperoleh manfaat jangka panjang. Dengan komitmen Indonesia dalam memperbaiki perekonomian melalui investasi, maka inilah saatnya bagi investor untuk memanfaatkan peluang investasi yang ditawarkan melalui CEPA untuk memperluas usaha dan mencapai kesejahteraan bersama.

Anindiana Puspitarini
Jessica Callista

Penulis : Anindiana Puspitarini & Jessica Callista, Counsel dan associate dari Practice Group Investment, Trade, and Industry Kantor Hukum Bahar

Sumber : id.beritasatu.com

26 total views, 1 views today

News Reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *