Senator Riri: Munculkan Perpustakaan “Kekinian” Hingga Pelosok Daerah

JAKARTA – Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Perpustakaan tahun 2018 yang dibuka oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Ketua DPD RI Oesman Sapta Odang baru saja digelar di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta beberapa hari lalu.

Tak tanggung-tanggung, peserta Rakornas ini mencapai 1.500an peserta dari seluruh pelosok negeri. Harapan besar pun muncul besar muncul setelah selesainya agenda besar ini.

BACA JUGA : 

Dubes AS Tinjau Pelayanan Kesehatan di Puskesmas Bengkulu

Pasific Partnership 2018, Bersama Latihan Tanggap Bencana

Senator Apresiasi Rencana Pendirian Bank Wakaf Mikro di Pesantren Bengkulu

Hal ini bukan tanpa alasan, karena kondisi Perpustakaan saat ini seakan menjadi pilihan terakhir bagi generasi muda Indonesia. Mereka lebih tertarik menggunakan gawai mereka, pergi ke mall, atau bahkan mencari tempat selfie untuk ajang pamer di media sosial, dibandingkan dengan jumlah frekuensi mereka ke perpustakaan.

“Dari laporan dan pantauan kami dilapangan, masih banyak perpustakaan sekolah yang sunyi dan sepi karena tidak ada yang tertarik untuk datang dan membaca. Ini yang harus menjadi tantangan bagi pemerintah daerah, dalam menjadikan Perpustakaan “Jendela Dunia” ramai dikunjungi kembali,” kata Riri.

Karena itulah, dengan telah usainya Rakornas Perpustakaan tahun 2018 ini, diharapkan para ASN di lingkup Perpustakaan dapat mengidentifikasikan permasalahan dan isu-isu strategis terkait dengan pengembangan perpustakaan serta pembudayaan kegemaran membaca. Riri yang juga merupakan Anggota Komite III DPD RI ini berharap seluruh stakeholder yang hadir dapat menyelaraskan sasaran program yang ingin dicapai.

“Perlu adanya pengembangan perpustakaan dan literasi masyarakat terhadap perpustakaan. Inovasi-inovasi pun sangat diharapkan untuk menghidupkan kembali perpustakaan yang selama ini telah ada. Kita juga ingin agar muncul perpustakaan-perpustakaan “Kekinian” yang cocok dengan kawula muda, agar perpustakaan tak lagi menjadi alternatif terakhir bagi generasi bangsa,” harap Riri.

Untuk diketahui, Data riset Perpusnas pada 2017 menunjukkan frekuensi membaca orang Indonesia rata-rata 3-4 kali per minggu. Lama waktu membaca per hari rata-rata hanya selama 30-59 menit. Dan jumlah buku yang dibaca per tahun rata-rata sekitar 5-9 buku. Sehingga diperoleh rata-rata tingkat kegemaran membaca masyarakat
Indonesia adalah 36,48 atau tergolong kategori rendah.

1 total views, 1 views today

News Reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *