Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2018, Tertinggi Se Asean

Jakarta – Pemerintah Indonesia mengungkapkan kontribusi sektor industri pada Produk Domestik Bruto secara global tahun 2018 mengalami penurunan.

Dijelaskan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, tidak ada lagi sumbangan sektor manufaktur pada ekonomi negara yang mencapai 30 persen, seperti awal dekade 2000-an.

“Ini ada realitas baru, kita tidak bisa menyamakan konteks sekarang pada paradigma ekonomi yang lalu,” ujar Menteri Airlangga dalam keterangan persnya, Senin.

Pada 2001, industri Indonesia hampir mencatatkan kontribusi 30 persen. Namun, pertumbuhan industri berhenti karena krisis ekonomi keuangan.

Setelah itu, industri Indonesia tidak benar-benar bangkit. Ini karena perekonomian nasional terlena dengan booming harga komoditas.

Setelah harga komoditas di pasar dunia mulai terguncang, baru ada langkah-langkah serius memperbaiki sektor industri.

“Pada pasca-2014, baru kita revitalisasi lagi sektor manufaktur,” paparnya.

Kondisi ini menurut Menteri Airlangga juga terjadi di negara-negara industri dunia, yaitu kontribusi sektor manufakturnya terhadap perekonomian rata-rata sekitar 17 persen.

Hanya ada lima negara dengan sektor industri manufaktur menyumbang di atas rata-rata yaitu, China (28,8 persen), Korea Selatan (27 persen), Jepang (21 persen), Jerman (20,6 persen), dan Indonesia (20,5 persen).

Negara-negara yang kontribusi industrinya di bawah rata-rata 17 persen, antara lain Meksiko, India, Italia, Spanyol, Amerika Serikat, Rusia, Brasil, Perancis, Kanada dan Inggris.

“Saat ini tidak ada negara di dunia yang bisa mencapai di atas 30 persen,” ujarnya.

Kata Menteri Airlangga, pertumbuhan ekonomi global juga melambat, tidak lagi dua digit. China yang sebelumnya memegang rekor pertumbuhan dua digit, sekarang sudah turun menjadi single digit.

Indonesia terbesar di ASEAN

Indonesia saat ini sudah masuk negara-negara dengan nilai perekonomian lebih dari USD1 triliun. Nilainya hampir sepertiga dari seluruh perekonomian negara-negara ASEAN.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah 5,2 persen, sementara ASEAN 5,1 persen/ Indonesia berperan penting dalam memacu perekonomian di ASEAN,” ujar dia.

Menurut Menteri Airlangga, saat ini ASEAN merupakan mesin pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di dunia, setelah China. Kawasan dengan penduduk lebih dari 500 juta ini diincar sebagai pasar potensial dan basis manufaktur.

Kawasan ini, terutama Indonesia sebenarnya memperoleh keuntungan dari perang dagang Amerika Serikat- China. Karena pertama, investasi di antara kedua negara itu meminta negara lain untuk ikut berpartisipasi, termasuk Indonesia.

Selain itu, adanya rencana relokasi perusahaan China ke Indonesia untuk menghindari tarif akibat perang dagang tersebut.

Kemudian, kebijakan Belt and Road dari China, juga menguntungkan bagi Indonesia. Sejumlah investor dari Negeri Tirai Bambu itu membidik Indonesia menjadi salah negara tujuan utama untuk ekspansi.

“Ini saatnya bagi Indonesia membangkitkan sektor industri sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar dia.

Sumber: fokusjabar.com

3,340 total views, 1 views today

News Reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *