Senator Riri: Hoax, Ancaman Demokrasi di Indonesia

Bengkulu – Saat ini, berita-berita hoaks seakan tidak terbendung di Indonesia. Selama April 2019, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengidentifikasi 486 hoaks dimana hampir separuh atau 209 di antaranya masuk kategori politik. Jumlah ini diperkirakan terus meningkat.

Anggota DPD RI Hj Riri Damayanti John Latief mengungkapkan, tsunami penyebaran hoaks adalah dampak negatif teknologi digital yang dapat merusak demokrasi.

“Pemerintah harus memperbanyak tim pengungkap fakta supaya hoaks yang sudah menyebar nggak ditelan mentah-mentah oleh pembacanya. Nggak perlu panik dan emosi lantas buru-buru memakai perangkat hukum, lawan kebohongan dengan data,” kata Riri Damayanti kepada media, Kamis (16/5/2019).

Wakil Bendahara III Ikatan Keluarga Seluma, Manna, Kaur ini menekankan, Ramadan 1440 harusnya menjadi momentum untuk menahan amarah dan mengedepankan kesalehan dalam wujud penyebaran informasi yang benar.

“Periksa dulu betul-betul fakta dan data sebelum membagikan sebuah informasi. Apalagi pernyataan dari elit politik, harus dicerna apakah hal tersebut adalah bentuk manuver atau pernyataan bohong. Terutama soal kecurangan Pemilu dan lain-lain yang terkait dengan itu,” ungkap Riri Damayanti.

Wakil Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Bengkulu ini berharap menjelang lebaran Idul Fitri, seluruh perbedaan politik yang pernah membelah masyarakat dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 dapat diredam, baik oleh para kandidat maupun simpatisannya masing-masing.

“Gunakan media sosial dengan sehat. Karena tidak semua masyarakat melek literasi dan bisa membedakan dengan tepat mana informasi yang benar dan hoaks. Kalau memang ada kecurangan dalam Pemilu, ungkap dengan fakta, bukan dengan data-data manipulatif,” tegas Riri Damayanti.

Sekedar informasi, perilaku politisi yang dengan sengaja memainkan opini publik dengan mengesampingkan dan mendegradasi fakta informasi yang objektif atau penyangkalan kebenaran populer dengan istilah post-truth.

Dalam demokrasi post-truth ini setiap orang bisa mempublikasikan opini dan pendapat sendiri melalui media sosial untuk menenggelamkan fakta yang benar dengan mengklaim pendapatnya yang paling benar atau dalam bahasa lain, emosi dan keyakinan personal lebih dominan dalam membentuk informasi ketimbang fakta.

137 total views, 1 views today

News Reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *