Anggota DPR RI Dewi Coryati, Minta Nelayan Tapak Paderi Jaga Kelestarian Penyu

Bengkulu – Anggota DPR RI Dapil Provinsi Bengkulu, Dewi Coryati, melakukan pertemuan silaturahmi dengan Komunitas Latun Bengkulu dan pelepasan puluhan ekor tukik lekang atau warna abu-abu, di kawasan objek wisata Tapak Paderi Kota Bengkulu.

Dewi berharap Seluruh elemen masyarakat yang ada dalam wilayah Provinsi Bengkulu, bersama-sama berperan serta melakukan konservasi, sekaligus melestarikan keberadaan penyu. Dimana keberadaan penyu tersebut, saat ini jumlahnya terus berkurang, bahkan populasinya sudah berada di level sangat berbahaya, untuk terancam punah.

“Ajakan untuk bersama-sama bisa melakukan konservasi terhadap katung sebutan lain dari penyu ini, memang harus timbul dari diri sendiri dan jika perlu dimulai dari usia dini terlebih dahulu, dengan diawali tidak memakan telurnya. Mengingat diketahui, penyu dalam bertelur sudah sangat susah,” ungkap Anggota Komisi X DPR RI Dewi Coryati.

Selain itu dikatakan Dewi, juga bisa melakukannya bersama-sama komunitas pencinta alam dan lingkungan, seperti, Latun Bengkulu, yang telah melakukan konservasi penyu, dengan dimulai dari penyelamatan telur sampai menetas hingga melepas liaran ke laut lepas.

“Dalam upaya penyelamatan salah satu hewan dilindungi undang-undang tersebut, yang juga tertanam nilai-nilai pendidikan dan pengetahuan. Apalagi konservasi penyu ini juga termasuk pariwisata edukasi dan alam, sehingga perlu mengajak anak-anak usia dini agar cinta terhadap penyu, dan keberadaannya tidak sampai punah, tetapi bisa terus bertambah,” ujar Anggota DPR RI dari Dapil Bengkulu , Jumat, (23/8/2019) lalu.

Sementara itu Direktur Eksekutif Latun Bengkulu, Ari Anggoro menjelaskan, sejak tahun 2018 lalu, pihaknya terus melakukan upaya pelestarian penyu, tidak saja berupa kampanye mengajak masyarakat, juga menyelamatkan telur serta kegiatan pelepasan tukik, yang tercatat sudah dilakukannya hampir 100 kali, termasuk pada hari ini.

“Khusus upaya penyelamatan telur hingga kini sudah mencapai 3 ribu butir, dan setelah menetas, tukik atau anak penyu dengan usia kurang dari satu bulan, langsung dilepas liarkan ke laut, yang sampai sekarang sudah mencapai 1.500 ekor tukik,” terangnya.

Kendati demikian ia juga mengajak semua pihak tanpa terkecuali untuk dapat bersama-sama melestarikan penyu yang mayoritas berjenis lekang atau warna abu-abu ini tidak sampai penuh, tapi jumlahnya bisa terus bertambah.

“Diharapkan langkah ini bisa melestarikan penyu dan jumlahnya bisa terus bertambah di lautan,” tukasnya.

Keterangan Foto / Sumber: Dewi Coryati saat berdiskusi bersama nelayan / rri.co.id

307 total views, 2 views today

News Reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *