Petani Milenial, Sebagai Pilar Keberlanjutan Pertanian di Provinsi Bengkulu
Novrian Pratama*

Bengkulu – Tanggal 24 September diperingati Bangsa Indonesia sebagai Hari Tani Nasional. Suatu momentum yang sangat baik bagi kita di Provinsi Bengkulu untuk melihat kembali bagaimana keberlanjutan sektor pertanian di Provinsi Bengkulu pada masa yang akan datang. Sebagai sektor yang merupakan penyokong terbesar pada pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu (28,65 persen), sudah seharusnya sektor pertanian mendapatkan perhatian lebih terhadap keberlanjutannya.

Hampir setiap orang pasti pernah mendapatkan pertanyaan, ”apa cita-cita kamu sewaktu besar nanti?”. Sebagian dari kita menjawab menjadi dokter. Sebagian lagi menjawab menjadi guru. Ataupun menjadi pilot. Bahkan ada yang ingin menjadi Presiden. Tapi berapa banyak kah dari kita yang mempunyai cita-cita untuk menjadi petani? Orang tua yang menjadi petani pun seringkali tidak ingin anaknya menjadi petani. Dengan berbagai paradigma negatif (kumuh, penghasilan kecil, dll) yang melekat pada usaha di sektor pertanian, menjadikan para orang tua berpikir puluhan kali untuk mengijinkan anaknya menjadi seorang petani. Hal ini tanpa disadari menimbulkan dampak jangka panjang terhadap keberlanjutan sektor pertanian.

Berbicara mengenai keberlanjutan, tentu saja berkaitan dengan jumlah petani. Hal ini penting karena para petani lah komponen utama yang dapat menggerakkan sektor pertanian. Untuk ukuran negara berkembang seperti Indonesia, merupakan suatu hal yang wajar jika struktur ekonomi bergeser dari pertanian menuju perekonomian yang didominasi industri dan jasa. Tetapi hal ini dapat menjadi masalah jika sektor pertanian tidak ada proses regenerasi pada petaninya. Untuk Provinsi Bengkulu, hal ini dapat dilihat dari perbandingan hasil Sensus Pertanian 2013 dengan Survei Pertanian Antar Sensus (SUTAS) tahun 2018. Dimana dalam 5 tahun persentase rumah tangga usaha pertanian untuk kelompok umur petani utama berusia muda (dibawah 45 tahun) turun sebesar 3 persen, sementara persentase untuk petani tua (45 tahun keatas) bertambah 3,3 persen. Fenomena ini bisa mengkhawatirkan jika tidak mendapat perhatian kita semua. Jangan sampai nantinya Provinsi Bengkulu yang saat ini masih mengandalkan pertanian justru tidak mempunyai kedaulatan ketahanan pangan.

Salah satu penyebab sektor pertanian tidak menarik untuk menjadi profesi adalah rendahnya pendapatan yang diperoleh dari kegiatan usaha tani. Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator yang dikumpulkan BPS. Misalnya saja untuk Nilai Tukar Petani (NTP). NTP Provinsi Bengkulu pada Bulan Agustus 2019 berada pada angka 91,86. Hal ini menunjukkan bahwa daya beli petani di Provinsi Bengkulu masih defisit. Daya beli petani akan surplus apabila NTP diatas 100. Selain itu, 53,7 persen penduduk bekerja miskin (sudah bekerja masih miskin) di Provinsi Bengkulu bekerja di lapangan usaha pertanian. Dari dua indikator ini saja kita dapatkan alasan yang menyebabkan generasi muda umumnya lebih memilih untuk tidak menjadi petani. Pekerjaan kantoran dengan penghasilan yang lebih tinggi, tempat kerja yang nyaman, dan lebih dihargai di masyarakat lebih masuk akal untuk dipilih. Untuk Bengkulu, menjadi PNS masih menjadi primadona utama oleh generasi muda sekarang. Banyaknya lulusan fakultas pertanian di sejumlah universitas yang ada di Bengkulu tidak menjadi jaminan mereka akan mendedikasikan dirinya di sektor pertanian dikarenakan berbagai alasan salah satunya rendahnya pendapatan tadi.

Pada era Revolusi Industri 4.0 ini dimana teknologi informasi memainkan peran utama, petani kita selain dituntut untuk dapat menghasilkan produk pertanian yang mampu bersaing juga dituntut untuk menguasai teknologi. Sudah bukan rahasia lagi jika petani kita masih menggunakan pola tradisional dalam proses produksinya. Hal ini dapat dilihat dari hasil SUTAS 2018 yang menunjukkan bahwa hanya 17 persen petani di Bengkulu yang menggunakan internet. Karena itu regenerasi petani, terlebih lagi petani yang kreatif dan menguasai teknologi haruslah menjadi salah satu prioritas pembangunan pertanian. Sehubungan dengan hal itu lah petani milenial di Bengkulu juga harus dapat mengambil peran.

Sesungguhnya, orang tua yang berprofesi sebagai petani apabila berhasil menyekolahkan anak-anaknya dari hasil bertani merupakan suatu hal yang hebat. Apalagi bekerja pada sektor pertanian sangat menjanjikan. Hasil produksinya pasti dibutuhkan dalam artian pasarnya tidak akan habis. Bahkan semakin berkembang. Seperti dengan hasil pertanian organik yang sedang menjadi trend saat ini. Sebagai contoh pada saat sekarang ini telah bermunculan berbagai petani milenial yang telah berhasil. Misalnya Ulus Pirmawan dan Doni Pasaribu yang penghasilannya lebih tinggi dari PNS.

Jadi sudah sepatutnya lah kita mendukung Kementerian Pertanian yang sedang menggalakan program-program untuk memperbanyak jumlah petani milenial pada tahun 2019 ini. Petani usia muda yang melek teknologi dan menggunakan teknologi informasi dalam proses produksinya.

SELAMAT HARI TANI NASIONAL

Oleh: Novrian Pratama*
* Penulis adalah Aparatur Sipil Negara pada Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu.

135 total views, 2 views today

News Reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *