Dibawah Kendali PT BM, Resi Gudang Kopi Kepahiang Diresmikan

Bengkulu – Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah dalam kunjungan kerja di Kabupaten Kepahiang Selasa (28/1) meresmikan Resi Gudang Kopi Kepahiang yang berada di Desa Tebat Air Pauh Kecamatan Tebat Karai.

Pembangunan gedung ini dikarenakan adanya kerjasama Pemerintah Kabupaten Kepahiang bersama PT Cyberindo Persada Nusantara dibawah naungan Badan Usaha Milik Daerah Pemda Provinsi Bengkulu, yaitu PT BM.

Disampaikan Asnawi Sayidina Koordinator Pengelola Resi Gudang Kopi Kepahiang mengatakan, adanya Resi Gudang ini sebagai wadah penyimpanan bagi hasil komoditas petani kopi.

“Kita hanya menerima 5 persen dari penghasilan kopi. Seperti kopi petik merah dan robusta. Tujuan ini agar dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Bagaimana ada kenaikan harga untuk masyarakat,” terangnya.

Resi Gudang Kopi ini nantinya dapat membantu para petani terhindar dari tengkulak kopi. Maka nilai harga kopi masyarakat tidak akan anjlok ketika musim cuaca buruk.

Nantinya pihak Petani dapat meminjam uang dengan menyimpan kopinya di resi gudang. Kemudian Petani menyerahkan agunan pinjaman ke Bank Sumsel Babel. Sasaran utama sendiri saat ini menarik kopi robusta Kabupaten Kepahiang.

“Untuk waktu tahan kualitas ini tergantung kadar airnya disini antara sebesar 10 sampai 13 kadar air. Untuk penyimpanan paling lama antara 6 bulan sampai 1 tahun. Sasaran kita menampung robusta di Kepahiang juga Bengkulu. Sesuai program bengkulu ini harus masuk ke ekspor dengan membawa  brand Bencoolen Kopi,” tambahnya.

Sekda Kepahiang Dukung Program Pengembangan Kopi Gubernur Rohidin

Seketaris Daerah Kabupaten Kepahiang Zamzami Zubir mengatakan, pembangunan Gudang Resi Kopi ini merupakan proyek pembangunan pada tahun 2013. Namun baru saat ini dapat teralisasi.

“Gedung ini dibangun oleh anggaran pemerintah Kabupaten Kepahiang 2013 hingga saat ini sudah 6 tahun. Belum dapat memaksimalkan karena pihak ketiga belum siap. Ini merupakan anugerah terutama pelaku usaha kopi. Maka harus didukung program ini, namun harus juga mendorong program Gubernurnya juga. Karena tidak ada sinkron,” katanya.

Menariknya, Zamzami dalam kata sambutannya secara terang juga mendukung program Gubernur saat ini.

“Kita tidak memikirkan bagi hasilnya namun berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan petani Kopi. Bayangkan sendiri ini sudah 6 tahun baru terealisasi, kalau Gubernur itu sudah dua priode realisasi ini baru dapat terlaksana,” tambahnya.

Sementara itu, Manager Resi Gudang Kopi Kepahiang Marsenani mengatakan, tujuan program ini sebagai mendorong kesejahteraan para petani kopi yang ada di Kabupaten Kepahiang. Untuk batas maksimal pinjaman sendiri sebesar 70 persen dari nilai resi gudang kopi dari pihak petani.

“Sebenarnya Kopi ini sebagai jaminan dari para petani. Karena kerap kali terjadi penurunan harga kopi ini berdampak buruk bagi para petani kita. Maka diberikan pinjaman dari Bank dengan jumlah maksimal yang diberikan 70 persen dari nilai resi gudang. Misal ada nilai resi gudangnya sebesar Rp 1 miliar maka diberikan uang pinjamannya sebesar Rp 700 juta,” ujarnya.

Lanjut Nani sapaan akrabnya, saat ini hanya Bank Sumsel Babel sebagai penyalur bantuan.

“Akan tetapi seluruh bank di Provinsi Bengkulu itu belum dapat memberikan resi gudang. Termasuk juga Bank Pembangunan Daerah, karena belum mengerti. Ini sebenarnya juga untuk melakukan stabilitas harga, karena kopi banyak kalau disimpan sini peredaran berkurang maka harga tetap stabil,” tambahnya.

Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah mengatakan, upaya Pemda Provinsi Bengkulu sendiri telah menerima Sertifikat Indeks Geografis yang telah keluar dari Kemenkumham.

“Untuk khusus kopi ini langkah pertama kita sertifikat dahulu karena harus memiliki Hak daerah kalau Kopi Bengkulu keluar dari daerah Bengkulu maka itu disebut nama Kopi Bengkulu,” ujarnya.

Gubernur Rohidin berharap dengan adanya Resi Gudang Kopi ini dapat membantu stabilitas harga kopi petani yang ada.  Bahkan pelaku usaha sendiri dapat ikut investasi karena kopi dari petani dapat dijual kembali nantinya.

“Selain itu harus memantau penyaluran ekspor. Maka kita meminta agar pelaku usaha kopi disini dari lokal. Kita juga meminta agar tidak menjual lagi kopi diluar pintu lokal kecuali di Pelabuhan Pulau Bai karena harga diluar berbeda dengan dipasaran,” pungkasnya.

News Reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *